BATU BARA, Buser Presisi.Com - Di tengah riuh rendah kehidupan masyarakat Kabupaten Batu Bara, di mana suara-suara lantang sering kali mendominasi ruang publik dan perhatian banyak pihak.
Ada satu sosok yang berjalan tenang namun jejaknya tertanam kokoh di hati setiap warga yang pernah bertemu dan merasakan kehadirannya.
Namanya dikenal dengan penuh rasa hormat, Opung Indah, atau yang dikenal secara lengkap sebagai Bapak Amos Hasibuan.
Beliau bukanlah pejabat tinggi yang namanya terpampang di papan-papan nama besar, bukan pula orang yang suaranya paling lantang saat berdiskusi di forum-forum umum. Justru dalam ketenangannya, dalam cara bicaranya yang lembut namun tegas, tersimpan kekuatan yang jauh lebih besar daripada sekadar suara yang menggema.
Sebagai Ketua Pengurus Rumah Aspirasi Hinca Panjaitan untuk wilayah Kabupaten Batu Bara, Opung Indah memegang amanah ini bukan sebagai jabatan yang mengangkat derajat, melainkan sebagai tanggung jawab yang menghubungkan hati antara masyarakat dan ruang tempat harapan mereka bisa didengar.
Beliau memilih jalan pelayanan yang sederhana namun penuh makna, mendengar dengan sepenuh hati. Baginya, Rumah Aspirasi bukan sekadar nama lembaga atau ruangan dengan meja dan kursi, melainkan tempat di mana setiap warga boleh datang, bercerita, dan menyampaikan apa yang ada di dada—mulai dari keluh kesah yang membebani pikiran, harapan yang disimpan rapi, hingga mimpi-mimpi kecil yang sering kali dianggap remeh dan tak sampai ke telinga mereka yang membuat kebijakan.
Tak ada aspirasi yang terlalu kecil, tak ada permasalahan yang terlalu sepele bagi beliau. Setiap kata yang diucapkan warga, setiap harapan yang disampaikan, semuanya bernilai sama, semuanya layak untuk diperhatikan dan diupayakan jalan penyelesaiannya.
Cara Opung Indah memimpin dan melayani menjadi pelajaran berharga tentang apa arti kepemimpinan yang sejati. Rendah hati bagi beliau bukan sekadar kata-kata indah yang diucapkan di hadapan orang banyak, melainkan sikap yang hidup dan dibuktikan dalam setiap langkahnya.
Beliau tak pernah ragu untuk turun langsung ke tengah masyarakat, duduk bersila di lantai rumah warga, berbicara dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, seolah beliau adalah bagian dari keluarga mereka sendiri. Ketika perselisihan muncul,
Ketika perasaan marah dan kecewa membara di antara sesama warga, di situlah kebijaksanaan dan kearifan beliau bersinar terang. Ia hadir bukan untuk menghakimi, bukan untuk memihak satu sisi, melainkan untuk menenangkan hati yang sedang panas, mendamaikan pandangan yang berbeda, dan merajut kembali persatuan yang sempat terurai. Dengan kesabaran yang tak pernah habis, ia mencari jalan tengah yang adil, jalan yang memastikan tidak ada satu pun pihak yang merasa dikorbankan atau ditinggalkan begitu saja.
Mungkin hal yang paling melekat dalam ingatan dan perasaan masyarakat Batu Bara adalah kebiasaan beliau yang tak pernah berhenti berbagi. Berbagi bagi Opung Indah tidak hanya berarti memberikan bantuan materi atau kebutuhan sehari-hari kepada mereka yang membutuhkan. Lebih dari itu, beliau berbagi waktu yang berharga, berbagi tenaga yang dimilikinya, dan yang paling berharga, berbagi perhatian yang tulus, perhatian yang membuat setiap orang merasa dilihat, didengar, dan berarti.
Khususnya bagi masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, mereka yang berada di lapisan menengah ke bawah, Opung Indah selalu hadir tanpa membedakan status, tanpa melihat latar belakang, tanpa menimbang siapa yang kaya dan siapa yang kurang beruntung.
Bagi beliau, menjadi tokoh masyarakat, menjadi orang yang dipercaya, bukanlah tentang mendapatkan penghormatan atau pujian. Itu adalah tentang menjadi berguna, tentang menjadi jembatan yang menolong orang lain melewati kesulitan, tentang menjadi cahaya kecil yang menerangi jalan mereka yang sedang dalam kegelapan.
Untuk segala hal yang telah beliau lakukan, untuk setiap tetes keringat dan setiap detik waktu yang telah dikorbankan, ucapan terima kasih saja rasanya belum cukup untuk menggambarkan rasa hormat dan kasih sayang yang tumbuh di hati masyarakat Batu Bara. Kebaikan yang telah ditanamkan Opung Indah bukanlah sesuatu yang akan hilang ditelan waktu, bukan sesuatu yang akan pudar karena berlalunya masa. Budi pekerti yang luhur, dedikasi yang tulus, dan pelayanan yang ikhlas seperti itu akan terus hidup, terus dikenang, dan terus diceritakan dari generasi ke generasi.
Beliau menjadi bukti nyata bahwa kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan secara konsisten, yang dilakukan dengan ketulusan hati, mampu mengubah banyak hal, mampu mengubah rasa takut menjadi harapan, rasa terasing menjadi rasa memiliki, dan rasa putus asa menjadi keyakinan bahwa masih ada orang yang peduli.
Dedikasi seperti yang ditunjukkan oleh Opung Indah memang jarang disorot di panggung-panggung besar. Namanya jarang muncul di berita-berita utama, tak ada sorotan lampu yang menyinari langkahnya, tak ada tepuk tangan gemuruh yang menyambut kedatangannya.
Namun, dampak dari apa yang telah ia lakukan terasa begitu nyata di setiap sudut kampung di Batu Bara, terasa dalam senyum lega warga yang masalahnya selesai, terasa dalam ketenangan hati mereka yang pernah didamaikan, dan terasa dalam rasa syukur dari setiap orang yang pernah ditolong dan didengar.
Opung Indah mengajarkan kita satu hal yang sangat berharga, bahwa kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa keras suaranya, seberapa tinggi kedudukannya, atau seberapa luas pengaruhnya di mata dunia. Kebesaran hati seseorang terlihat dari seberapa tulus ia melayani, seberapa sabar ia mendengar, dan seberapa setia ia berbuat baik, meski tak ada yang melihat dan meski tak ada yang memuji.
Jejak kebaikan Opung Indah adalah bukti abadi, bahwa dedikasi tanpa suara keras pun mampu meninggalkan jejak yang mendalam, jejak yang akan terus menjadi teladan bagi kita semua, bahwa di tengah hiruk pikuk dunia, kebaikan yang tulus akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar dan memberi manfaat bagi sesama.
(SURYONO)




